Kisah Si Kuri dan Si Mino
Siang itu,
Mino si Monyet dan Kuri si Kura-kura terlihat semangat. Dua sahabat itu baru saja meminta satu bibit berupa satu tunas Pisang ke rumah Kakek
Beru Si Beruang. Mino dan Kuri telah
sepakat akan menanam pisang di kebunnya masing-masing. Mereka membagi dua
tunas pisang. Mino dan Kuri menanam bagian tunasnya masing-masing.
“Kita Lomba ya,
Kuri. Tunas pisang siapa yang paling cepat berbuahnya!” Tantang Mino sombong.
“Boleh. Aku
ikut saja Mino. Yang penting sahabatku senang!” ujar Kuri semangat.
Enam bulan kemudian
Mino, duduk
sendiri di kebun belakang rumahnya. Ia bersedih, menatap tunas pisang yang
ditanamnya kekeringan dan mati.
Padahal ia sudah menyiramnya seperti
yang dilakukan oleh Kuri.
“Tok! tok! tok!” Suara pintu diketuk
Rupanya Kuri yang
datang
“Assalamu’alaikum
Mino!” Suara Kuri berseru kencang.
“Alaikumussalam…”
Mino menjawab tak semangat.
“Semangat dong
Mino. Aku ke sini ingin mengajakmu ke kebunku!”
“Ah, saya lagi
tak semangat, Kuri. Tuh, lihat pohon Pisang ku!” tukas Mino
“Ayolah teman.
Sabar, Jangan bersedih. Buah Pisangku telah matang, mari kita petik sama-sama”
ujar Kuri mantap.
Mendengar
ucapan Kuri, Mino senang sekali. Karena Kuri mau berbagi buah pisangnya.
“Baiklah Kuri.
Kamu baik sekali!” ucap Mino bersemangat.
***
Tak lama,
tibalah Mino dan Kuri di kebun milik Kuri.
“Nah itu dia
pohon pisangnya!” ucap Kuri senang.
Tanpa diminta
Mino langsung memanjat pohon Pisang. Rupanya, Ia sudah sangat lapar. Hingga lupa
keberadaan Kuri yang menunggu di bawah pohon.
“Mino, pelan-pelan makannya. Jangan lupa berdo’a!” ujar Kuri.
Rupanya Mino
tak mendengar. Ia terlalu rakus. Buah pisang satu tandan hampir habis
dimakannya.
“Mino jangan
lupa sisakan buat aku, dong!” teriak Kuri, mulai cemas. Ia melihat buah pisangnya tinggal tiga biji menempel di
tandannya.
Kuri Nampak
sedih. Hampir saja dia menangis. Mino benar-benar rakus. Padahal perutnya sudah
buncit. Tak peduli dengan teriakan Kuri berkali-kali, Hingga buah pisangnya
habis dimakan Mino. Dada Kuri turun naik menahan kesal.
Tiba-tiba.
“Buk, Prak!”
suara benda terjatuh ke tanah. Kuri memandang ke arah suara.
“Aduuh.
Sakiit. Tolooong. Tolong Aku Kuri!” Mino meraung-raung kesakitan. Kuri diam
saja, tak mau menolong.
***
Tak jauh dari
pohon pisang itu. Kakek Beru si Beruang sahabat Mino dan Kuri ternyata sudah
berdiri dari tadi. Melihat semuanya dari awal.
“Ada apa ini,
Kuri? Mino Kenapa?” Kek Beru pura-pura bertanya.
“Tolong Aku Kek
Beru, aku terjatuh!” Mino masih meraung kesakitan.
“Jangan Kek. Biarkan
saja dia!” sergah Kuri sengit. Ia marah dengan kelakuan Mino.
“Mino Luka
Parah, Kuri! Kita harus menolongnya!” Kek Beru segera mengangkat tubuh Mino.
Namun Kuri diam saja, tidak mau ikut menolong.
“Ayolah Kuri.
Maafkanlah Mino. Dia butuh bantuan!” ujar Kek Beru membujuk Kuri.
Kuri hanya diam.
Tak mau bicara. Sebenarnya Kuri juga kasihan kepada Mino.
Mino mengaku
terlalu kekenyangan, tak bisa
menjaga keseimbangan. Akhirnya terjatuh. Kedua
kakinya keseleo. Kakek Beru merawat Mino sebisanya.
![]() |
| DongengAnak.net |
Pelan, Kuri
mendekat hendak membantu Kakek Beru mengobati Mino.
“Maafkan Aku,
Kuri!” kata Mino, sambil melihat Kuri.
Kuri masih
diam. Tetap membantuk Kakek Beru memijit Kaki Mino.
“Kuri…, Mino
sudah minta maaf. Maukah kau memaafkannya!” ucap Kek Beru.
“Baiklah Kek.
Aku memaafkan Mino Kek. Tapi aku lapar, pisangnya dimakan Mino semuanya!” ujar
Kuri cemberut.
“Saya tak akan
mengulanginya lagi Kuri. Aku mengaku salah, dan tak mau jatuh lagi!” tukas Mino
sambil menangis Menyesali perbuatannya.
“Sudahlah
Mino, kan Kuri sudah memaafkan mu!” Ujar Kek Beru menghibur.
Kakek Beru
mengeluarkan bungkusan dari tasnya. Setelah dibuka, isinya dua buah pisang.
“Ini untuk mu
Kuri. Selamat makan. Dan ini untukku.!” ujar Kek Beru tersenyum.
“Untuk Mino,
mana Kek?” kata Kuri sambil melihat perut Mino yang buncit.
Kakek Beru
tertawa terbahak-bahak. Ikut memandang perut Mino yang tak bisa diisi lagi.
Mino dan Kuri ikut tertawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar