Rabu, 17 April 2013

Kita Belum Usai : Refleksi Dakwah Kampus

Kerja Kita Belum Usai

Alimin Samawa,  kader LDK UNRAM 2003-2007

 


Dengan segala kerendahan hati, kutuliskan perenungan pribadi. Merefleksi yang pernah terbaca, terlihat dan terlakoni dalam jejak dakwah kampus. Tentu ini tak mewakili apa yang telah dilakukan oleh pendahulu dakwah di UNRAM. Karena pengorbanan, peran, jasa-jasa belumlah seberapa, jika dibanding mereka. Kutulis dengan penuh rasa bersalah, jika tak terwakilkan banyak kisah. 


****
 
 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah sarana untuk beribadah kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kalian mendapatkan  kemenangan.” (QS. AL Maidah 35).

Sarana (wasilah) yang bisa kita lakkukan dalam bingkai taqwa kepada Allah SWT, di kampus. Adalah ikut terlibat dalam aktivitas dakwah. Dengan menyelami pemahaman tentang dakwah kampus sebagai dakwah ammah dan harokah zhohiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Bahwa Dakwah Kampus merupakan implementasi dakwah Ilallah dalam lingkup  perguruan tinggi. Dimaksudkan  untuk menyeru civitas akademika ke jalan Islam dengan memanfatkan berbagai sarana formal/informal  yang ada di dalam kampus. Bergerak di lingkungan masyarakat ilmiah yang mengedepankan intelektualitas & profesionelitas.

Sekadar menjadi pengingat, bagi aktivis dakwah kampus. Bahwa sebuah gerakan, sebuah organisasi akan timpang dan terhambat lajunya. Bahkan cenderung tidak produktif karena ketidak pahaman mereka tentang visi tentang tujuan dakwah kampus itu sendiri. Khusus di Universitas mataram, para pendahulu dakwah telah merumuskan sebuah visi gerakan.  Visi dakwah kampus Universitas Mataram. Yaitu, Mewujudkan masyarakat kampus yang Islami  dan berintelektualitas dengan masjid sebagai basis perubahan, melalui dakwah sebagai usaha untuk mewujudkannya

Kemudian tertuang dalam bentuk  misi dakwah kampus. Yaitu, mewujudkan Soliditas internal, Pemberdayaan dan pengembangan potensi kader, Pelayanan dan pembinaan ummat dan Sinergisitas peran masjid dan kampus

Melalui visi dan misi inilah kemudian gerakan dakwah kampus berkembang. Peran-peran strategis dilakoni oleh para pelaku dakwah. Ekspansi dari ruang sempit yang bernama Lembaga Dakwah Kampus Baabul Hikmah telah menggurat sejarah. Dan menjadi gerakan yang sangat diperhitungkan di Kampus. Walau citra eksklusif masih melekat kuat dalam diri aktivis masjid, namun tidak sedikit yang angkat topi atas keberanian dan pengorbanan pelaku dakwah kampus yang disematkan ‘anak masjid’ ini. Mulai dari pengelolaan Badan Eksekutif di tingkat fakultas dan Universitas, juga ekspansi ke ranah popular di bidang akademik.

Dakwah bukannya tak melelahkan, bukan tidak membosankan, atau tidak menyakitkan. Bahkan para pembawa risalah dakwah ini diterpa dengan ujian-ujian kefuturan. Bosankah? Ada yang bosan, namun ada yang terus membersamai kelelahan, membersamai kesakitan, membersamai cobaan. Hingga kelelahan, kesakitan, capek dan cobaan enggan dan bosan bersama mereka, dan mereka tak mengubah janjinya sedikitpun kepada Allah SWT. Maka capaian-capaian dakwah kampus di Universitas Mataram pun, tentu tak lepas dari berbagai tantangan dalam medan perjuangannya. Tantangan eksternal, yang menjadi semacam pendewasaan bahwa dinamika dalam bersosial itu ada, apalagi mengatasnamakan dakwah yang sudah pasti tantangannya sangat besar sebagaimana yang di alami kaum terdahulu. Yang tak  kalah menariknya adalah tantangan dari dalam. Permasalahan klise tentang mengelolah perasaan, belajar menjadi dewasa, dan belum usainya penjabaran pola mengkomunikasikan lini dakwah kampus antara aktivis dakwah, ikhwan dan akhawat. Semua perlu pembenahan, dan kita adalah orang yang pertama kali ambil bagian.

Sungguh sangat normatif memang tulisan ini, namun setidaknya begitulah jalan dakwah mengajarkan kepada kita. Memperbaiki, mengubah, dan dilakukan terus menerus.

Sangat menarik apa yang diguratkan Masayikh Dakwah, Almarhum KH Rahmat Abdullah.

Teruslah bergerak hingga kebosanan itu bosan mengikutimu, teruslah berlari hingga bosan itu yang lelah mengejarmu, teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu, teruslah bertahan hingga kefuturan itu future menyertaimu, dan teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu

“Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikirmu, sampai perhatianmu, Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimupun tentang dakwah. Tentang ummat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itulah dakwah. Menyedot sari pati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.”

Kita belum sembahkan daging, atau serpihan tulang kita untuk dakwah ini. Atau darah, atau…? karena yang sering kita lakukan adalah hanya memberikan setitik rebas air mata karena ketidakmampuan...dan itu belum seberapa. Karena kita belum usai. Wallahualam bisshowab.

Al Fakir, Akhukum Fillah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar