Kerja Kita Belum Usai
Alimin Samawa, kader LDK UNRAM 2003-2007
Dengan segala kerendahan hati, kutuliskan
perenungan pribadi. Merefleksi yang pernah terbaca, terlihat dan terlakoni
dalam jejak dakwah kampus. Tentu ini tak mewakili apa yang telah dilakukan oleh
pendahulu dakwah di UNRAM. Karena pengorbanan, peran, jasa-jasa belumlah
seberapa, jika dibanding mereka. Kutulis dengan penuh rasa bersalah, jika tak
terwakilkan banyak kisah.
****
Sarana (wasilah) yang bisa kita lakkukan dalam
bingkai taqwa kepada Allah SWT, di kampus. Adalah ikut terlibat dalam aktivitas
dakwah. Dengan menyelami pemahaman tentang dakwah kampus sebagai dakwah ammah
dan harokah zhohiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Bahwa Dakwah Kampus merupakan implementasi
dakwah Ilallah dalam lingkup perguruan
tinggi. Dimaksudkan untuk menyeru
civitas akademika ke jalan Islam dengan memanfatkan berbagai sarana
formal/informal yang ada di dalam
kampus. Bergerak di lingkungan masyarakat ilmiah yang mengedepankan intelektualitas
& profesionelitas.
Sekadar menjadi pengingat, bagi aktivis
dakwah kampus. Bahwa sebuah gerakan, sebuah organisasi akan timpang dan
terhambat lajunya. Bahkan cenderung tidak produktif karena ketidak pahaman
mereka tentang visi tentang tujuan dakwah kampus itu sendiri. Khusus di
Universitas mataram, para pendahulu dakwah telah merumuskan sebuah visi
gerakan. Visi dakwah kampus Universitas
Mataram. Yaitu, Mewujudkan
masyarakat kampus yang Islami dan
berintelektualitas dengan masjid sebagai basis perubahan, melalui dakwah
sebagai usaha untuk mewujudkannya
Kemudian tertuang dalam bentuk misi dakwah kampus. Yaitu, mewujudkan Soliditas internal, Pemberdayaan dan pengembangan potensi kader,
Pelayanan dan pembinaan ummat dan Sinergisitas
peran masjid dan kampus
Melalui visi dan
misi inilah kemudian gerakan dakwah kampus berkembang. Peran-peran strategis
dilakoni oleh para pelaku dakwah. Ekspansi dari ruang sempit yang bernama
Lembaga Dakwah Kampus Baabul Hikmah telah menggurat sejarah. Dan menjadi
gerakan yang sangat diperhitungkan di Kampus. Walau citra eksklusif masih
melekat kuat dalam diri aktivis masjid, namun tidak sedikit yang angkat topi
atas keberanian dan pengorbanan pelaku dakwah kampus yang disematkan ‘anak
masjid’ ini. Mulai dari pengelolaan Badan Eksekutif di tingkat fakultas dan
Universitas, juga ekspansi ke ranah popular di bidang akademik.
Dakwah bukannya tak
melelahkan, bukan tidak membosankan, atau tidak menyakitkan. Bahkan para
pembawa risalah dakwah ini diterpa dengan ujian-ujian kefuturan. Bosankah? Ada
yang bosan, namun ada yang terus membersamai kelelahan, membersamai kesakitan,
membersamai cobaan. Hingga kelelahan, kesakitan, capek dan cobaan enggan dan
bosan bersama mereka, dan mereka tak mengubah janjinya sedikitpun kepada Allah
SWT. Maka capaian-capaian dakwah kampus di Universitas Mataram pun, tentu tak
lepas dari berbagai tantangan dalam medan perjuangannya. Tantangan eksternal, yang
menjadi semacam pendewasaan bahwa dinamika dalam bersosial itu ada, apalagi
mengatasnamakan dakwah yang sudah pasti tantangannya sangat besar sebagaimana
yang di alami kaum terdahulu. Yang tak
kalah menariknya adalah tantangan dari dalam. Permasalahan klise tentang
mengelolah perasaan, belajar menjadi dewasa, dan belum usainya penjabaran pola mengkomunikasikan
lini dakwah kampus antara aktivis dakwah, ikhwan dan akhawat. Semua perlu
pembenahan, dan kita adalah orang yang pertama kali ambil bagian.
Sungguh sangat normatif
memang tulisan ini, namun setidaknya begitulah jalan dakwah mengajarkan kepada
kita. Memperbaiki, mengubah, dan dilakukan terus menerus.
Sangat menarik apa
yang diguratkan Masayikh Dakwah, Almarhum KH Rahmat Abdullah.
Teruslah bergerak
hingga kebosanan itu bosan mengikutimu, teruslah berlari hingga bosan itu yang
lelah mengejarmu, teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu,
teruslah bertahan hingga kefuturan itu future menyertaimu, dan teruslah berjaga
hingga kelesuan itu lesu menemanimu
“Memang seperti
itulah dakwah. Dakwah adalah cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai
pikirmu, sampai perhatianmu, Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah
lelapmu, isi mimpimupun tentang dakwah. Tentang ummat yang kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itulah dakwah. Menyedot sari pati energimu. Sampai
tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh
yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.”
Kita belum
sembahkan daging, atau serpihan tulang kita untuk dakwah ini. Atau
darah,
atau…? karena yang sering kita lakukan adalah hanya memberikan setitik
rebas air mata karena ketidakmampuan...dan itu belum seberapa. Karena
kita belum usai. Wallahualam bisshowab.
Al Fakir, Akhukum
Fillah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar