PENULIS DI BATU NISAN
Alimin Samawa
Terkisah seorang penulis tak biasa, ia tak menghasil buku dari
guratan-guratan tangannya yang kokoh.
Setiap orang yang menjelma menjadi mayat di kampungnya, tak terlewatkan
dari guratan tangan kokohnya. Ia tak membuat kisah mereka, dalam bentuk
cerita-carita pendek atau novel. Namun ia menggurat nama pemilik makam, di batu
nisannya. Apa yang terjadi dengan Pen Bosang, sang penggurat nama di batu nisan itu? Saat ia namanya tertulis pula di
batu nisan.
Prolog :
”Peseng!”
orang tua bersuara serak meninggi, berteriak hebat.
Sosok
yang diteriaki hanya diam tak bersalah
”Sampai
kapan kamu akan begini!?, tak ada niat kah kau mengakhirinya?” suara orang tua
itu kini agak melemah.
”Aaah...!
pikun!, terus saja Bapak menulisi batu-batu itu!, ini urusan anak muda!”
”Macam
mana ini tidak menjadi urusan bapak, kau anak bapak, tanggung jawab bapak
hingga akhirat kelak!” pedas sosok tua itu mengangkat bicaranya. Nafasnya
memburu. Ada sakit yang menggelayuti di dada sosok tua, tak bosan ia
melemparkan tanya yang sama kepada anaknya. Tentang kapan mengakhiri lajangnya.
Sabar
ada batasnya, sosok tua itu keluar rumah, di depan pintu rumahnya ia merapal,
komat-kamit. Entah mantra atau apalah. Peseng hanya diam, asyik berkawan dengan
televisi tua di kamarnya.
***
”Tak lagi jua terlihat urat
tangannya yang membesar, menyembul di permukaan kulitnya”.
Ternyata oh ternyata.
Namanya telah tergurat dalam daftar tunggu orang-orang yang hendak ditatak
namanya di nisan.
Padahal kemarin Pen Bosang menyapa orang-orang, sembari
membawa badik tajamnya dihunuskan menggores wajah-wajah batu menjadi guratan
nama sang empunya makam.
“Kini siapa yang akan mengguratkan nama Pen Bosang di nisannya?”
Seorang kerabat berteriak bertanya. Tak ada pula yang menduplikat kepiawaiannya
memainkan badik di atas batu-batu yang dituai dari pegunungan ataupun dari
kedalaman sungai-sungai, yang ditanam di tanah gembur makam. Dua anaknya tak
memiliki kelihaian untuk menduplikat kemampuannya.
“Siapa suruh tak ada yang belajar!” pekik tetuah kampung yang lain.
***
Asap mengepul memenuhi tungku berapi dari bambu-bambu kering yang
disongsong sesak. Ibu-ibu ramai,
datang menenteng dan menjunjung beras, gula ataupun kopi. Tak enak datang ke
rumah orang mati jika tak membawa apa-apa ”lenge rasa[3]!”.
Sementara tubuh kosong Pen
Bosang dibaringkan di ruang tamu terselimut selendang bermotif batik. Seorang wanita tua tergopoh-gopoh. Di
tangannya ada sebilah badik. Ooo ternyata badik milik si mayyit. Wajah tua yang
mengenggam badik itu adalah istri pen Bosang.
”Sarema tanam ke baeng[4]!”
ungkapan yang sangat dipahami oleh masyarakat yang hafal dan terbiasa. Terbiasa
dengan adat : jika ada orang mati, maka apapun benda kesenangan atau yang
sering melekat di badannya harus ditanam bersama dengan mayitnya. Segera badik tua itu dibungkus dengan kain
putih.
***
Lalu lalang pelayat datang
bergantian. Kopi panas dan penganan ringan dari ketan yang ditaburi parutan
kelapa dan gula segera berpindah ke lambung para pelayat. Beberapa orang
terlihat tak menyentuh sedikitpun makanan atau minuman di rumah si mayit, itu
perbuatan bida’a (bid’ah, yang
tertolak amalnya).
”Orang ditimpa musibah kok
dibebani!”. bisik beberapa orang. Yang menyebabkan terkadang menjadi
pertengkaran kecil, ditengah keramaian.
***
Waktu pemakaman segera tiba, keluarga dan
handai tolan telah berkumpul. Ada galau, ada sesal berkecamuk.
Siapa yang bisa menggurat nama Pen Bosang
di Nisannya?.
Tak satupun berkata sanggup.
Matahari telah condong ke barat, panggilan
Ashar tertunai lalu. Mayat Pen Bosang
digotong ke masjid. Setelah raga kosong itu disholatkan, ramai kerabat dan
jiran tetangga yang menyumbang tenaga untuk membawa Pen Bosang ke peristirahatan terakhir.
”Tunggu!, Maming[5]
tidak boleh dikuburkan jika belum dibuat nisan yang digurat badik!”
”Jangan banyak tingkah, Somang!” sergah
tetua kampung.
”Pokoknya bapak tak boleh dikuburkan!”
Adu mulut, bersilang kelindan. Beberapa
masyarakat yang masih memegang adat bersikeras agar Pen Bosang dikuburkan jika batu nisan telah tergurat nama.
Terlalu capek berdebat dengan anak sulung Pen Bosang, akhirnya pengusung keranda
jenazah beringsut pergi ke barisan belakang. Hanya menjadi pengiring jenazah.
”Sekiranya bukan karena syariat dan norma di
masyarakat, kami tak akan mau diatur!” pelan kata itu terapal, entah dari mulut
siapa.
***
"Dimanakah Peseng?"
Anak paling bontot Pen Bosang,
ia tak ada di tempat. Tak turut dalam barisan pengusung keranda jenazah.
Berkelana kemana ia,
masihkah ia khusyuk di kamarnya. Sedang bersedihkah atau masih dengan kebiasaan
lamanya?
Benar saja, saat sedih tergurat
di wajah, belum pindah raga kosong Pen
Bosang ke liang lahat, belum bubar manusia-manusia baik hati menemani kepedihan
Pen Iya, isteri Pen Bosang. Orang-orang menggerutu. Sembari masih mencari sosok
mana yang bisa dipercaya untuk mengguratkan nama di nisan Pen Bosang nantinya.
***
"Peseeeeeeeeeng!, oh
Peseng!!!!! Jerit tangis wanita tua tiba-tiba pecah. Terlampau sedih rupanya Pen Iya. Tapi tidak!, ada yang lain.
"Si Peseng mateeee[6]!
Hu uuuuu!!!"
Orang yang semula akan
berangsur pulang berkerumun lagi. Kemalangan apalagi yang menimpa penulis nisan
itu?. Beberapa orang lelaki kampung segera masuk ke ruangan tempat Peseng
terbujur. Sebuah televisi masih menyala dengan mode diam. Beberapa
berpekik istighfar
"Ya Allah, Peseng?!.
Tak ada yang percaya, selagi orang-orang
bersedih sempat-sempatnya Peseng asyik menonton. Orang-orang ingin merutuk
dengan sumpah serapah, tapi urung untuk dikeluarkan. Sekiranya yang ditonton
adalah acara tivi biasa atau sholawatan-sholawatan atau video do'a-do'a, orang
akan maklum.
Bahwa Peseng tengah menghibur
diri. Tapi tidak, yang ditonton adalah video bergumulnya dua pasang manusia
bugil.
Semua pelayat diam. Hujatan,
makian, sedih berbaur satu. Anak penulis nisan mati tak baik. Bahkan remote control telah menempel, menyatu
dengan bersama tengkorak tangannya.
Apa kata Pen Bosang, jika bertemu dengan ruh anaknya. Yang hitam melegam.
Dengan remote tivi menempel lekat di tangan?.
Isi kepala orang-orang kampung
tak seragam, ratusan bahkan ribuan sangkaan memenuhi antariksa pikiran.
Berkesimpulanlah mereka : "Biarkan ini jadi pelajaran!"
***
Tanpa ba bi bu, segera apa yang telah diperlakukan pada raga Pen Bosang
terjadi pada Peseng, dimandikan, dikafani, disholatkan. Tak ada lagi ruang
debat tentang tulisan untuk nisan. Yang ada, hanya perkelahian sangkaan. Pen
Bosang yang baik versus anaknya yang berakhir nista. Huh!.
Dua raga dikebumikan bersama, langit membagi dua ruangnya. Matahari terik
menyepuh, bersama rinai hujan merintik malas. Ingin berucap : "Matahari
untuk Peseng dan hujan untuk Pen
Bosang".
Istri Pen Bosang, Pen Iya, bak
kayu yang tak pernah tersentuh air. Layu, tanpa warna. Anak sisanya merangkul erat. Air mata telah
kering.
"Sabar Pen Iya?".
Lalu lalang pelayat berdatangan untuk kali kedua. Kini tak membawa apa-apa,
sudah cukup dengan bawaan yang pertama. Pen Iya sangat sabar, terserah urusan
Allah mau diapakan dua cintanya yang pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar