Sabtu, 21 November 2015

Cerpen : Penulis Batu Nisan

PENULIS DI BATU NISAN
Alimin Samawa
Terkisah seorang penulis tak biasa, ia tak menghasil buku dari guratan-guratan tangannya yang kokoh.
Setiap orang yang menjelma menjadi mayat di kampungnya, tak terlewatkan dari guratan tangan kokohnya. Ia tak membuat kisah mereka, dalam bentuk cerita-carita pendek atau novel. Namun ia menggurat nama pemilik makam, di batu nisannya. Apa yang terjadi dengan Pen Bosang, sang penggurat nama di batu  nisan itu? Saat ia namanya tertulis pula di batu nisan.
***
Prolog :
”Peseng!” orang tua bersuara serak meninggi, berteriak hebat.
Sosok yang diteriaki hanya diam tak bersalah
”Sampai kapan kamu akan begini!?, tak ada niat kah kau mengakhirinya?” suara orang tua itu kini agak melemah.
”Aaah...! pikun!, terus saja Bapak menulisi batu-batu itu!, ini urusan anak muda!”
”Macam mana ini tidak menjadi urusan bapak, kau anak bapak, tanggung jawab bapak hingga akhirat kelak!” pedas sosok tua itu mengangkat bicaranya. Nafasnya memburu. Ada sakit yang menggelayuti di dada sosok tua, tak bosan ia melemparkan tanya yang sama kepada anaknya. Tentang kapan mengakhiri lajangnya.
Sabar ada batasnya, sosok tua itu keluar rumah, di depan pintu rumahnya ia merapal, komat-kamit. Entah mantra atau apalah. Peseng hanya diam, asyik berkawan dengan televisi tua di kamarnya.
***
”Tak lagi kami melihat guratan badik[1] Pen[2] Bosang!”
”Tak lagi jua terlihat urat tangannya yang membesar, menyembul di permukaan kulitnya”.
Ternyata oh ternyata. Namanya telah tergurat dalam daftar tunggu orang-orang yang hendak ditatak namanya di nisan.
Padahal kemarin  Pen Bosang menyapa orang-orang, sembari membawa badik tajamnya dihunuskan menggores wajah-wajah batu menjadi guratan nama sang empunya makam.

“Kini siapa yang akan mengguratkan nama Pen Bosang di nisannya?” Seorang kerabat berteriak bertanya. Tak ada pula yang menduplikat kepiawaiannya memainkan badik di atas batu-batu yang dituai dari pegunungan ataupun dari kedalaman sungai-sungai, yang ditanam di tanah gembur makam. Dua anaknya tak memiliki kelihaian untuk menduplikat kemampuannya.
“Siapa suruh tak ada yang belajar!” pekik tetuah kampung yang lain.

***

Asap mengepul memenuhi tungku berapi dari bambu-bambu kering yang disongsong sesak. Ibu-ibu ramai, datang menenteng dan menjunjung beras, gula ataupun kopi. Tak enak datang ke rumah orang mati jika tak membawa apa-apa ”lenge rasa[3]!”.

Sementara tubuh kosong Pen Bosang dibaringkan di ruang tamu terselimut selendang bermotif batik.  Seorang wanita tua tergopoh-gopoh. Di tangannya ada sebilah badik. Ooo ternyata badik milik si mayyit. Wajah tua yang mengenggam badik itu adalah istri pen Bosang.
Sarema tanam ke baeng[4]!” ungkapan yang sangat dipahami oleh masyarakat yang hafal dan terbiasa. Terbiasa dengan adat : jika ada orang mati, maka apapun benda kesenangan atau yang sering melekat di badannya harus ditanam bersama dengan mayitnya.  Segera badik tua itu dibungkus dengan kain putih.
***
Lalu lalang pelayat datang bergantian. Kopi panas dan penganan ringan dari ketan yang ditaburi parutan kelapa dan gula segera berpindah ke lambung para pelayat. Beberapa orang terlihat tak menyentuh sedikitpun makanan atau minuman di rumah si mayit, itu perbuatan bida’a (bid’ah, yang tertolak amalnya).
”Orang ditimpa musibah kok dibebani!”. bisik beberapa orang. Yang menyebabkan terkadang menjadi pertengkaran kecil, ditengah keramaian.
***
Waktu pemakaman segera tiba, keluarga dan handai tolan telah berkumpul. Ada galau, ada sesal berkecamuk.
Siapa yang bisa menggurat nama Pen Bosang di Nisannya?.
Tak satupun berkata sanggup.
Matahari telah condong ke barat, panggilan Ashar tertunai lalu. Mayat Pen Bosang digotong ke masjid. Setelah raga kosong itu disholatkan, ramai kerabat dan jiran tetangga yang menyumbang tenaga untuk membawa Pen Bosang ke peristirahatan terakhir.

”Tunggu!, Maming[5] tidak boleh dikuburkan jika belum dibuat nisan yang digurat badik!”

”Jangan banyak tingkah, Somang!” sergah tetua kampung.

”Pokoknya bapak tak boleh dikuburkan!”

Adu mulut, bersilang kelindan. Beberapa masyarakat yang masih memegang adat bersikeras agar Pen Bosang dikuburkan jika batu nisan telah tergurat nama.

Terlalu capek berdebat dengan anak sulung Pen Bosang, akhirnya pengusung keranda jenazah beringsut pergi ke barisan belakang. Hanya menjadi pengiring jenazah.
”Sekiranya bukan karena syariat dan norma di masyarakat, kami tak akan mau diatur!” pelan kata itu terapal, entah dari mulut siapa.
***
"Dimanakah Peseng?"
Anak paling bontot Pen Bosang, ia tak ada di tempat. Tak turut dalam barisan pengusung keranda jenazah.
Berkelana kemana ia, masihkah ia khusyuk di kamarnya. Sedang bersedihkah atau masih dengan kebiasaan lamanya?
Benar saja, saat sedih tergurat di wajah, belum pindah raga kosong Pen Bosang ke liang lahat, belum bubar manusia-manusia baik hati menemani kepedihan Pen Iya, isteri Pen Bosang. Orang-orang menggerutu. Sembari masih mencari sosok mana yang bisa dipercaya untuk mengguratkan nama di nisan Pen Bosang nantinya.
***
"Peseeeeeeeeeng!, oh Peseng!!!!! Jerit tangis wanita tua tiba-tiba pecah. Terlampau sedih rupanya Pen Iya. Tapi tidak!, ada yang lain.
"Si Peseng mateeee[6]! Hu uuuuu!!!"
Orang yang semula akan berangsur pulang berkerumun lagi. Kemalangan apalagi yang menimpa penulis nisan itu?. Beberapa orang lelaki kampung segera masuk ke ruangan tempat Peseng terbujur. Sebuah televisi masih menyala dengan mode diam. Beberapa berpekik istighfar
"Ya Allah, Peseng?!.
 Tak ada yang percaya, selagi orang-orang bersedih sempat-sempatnya Peseng asyik menonton. Orang-orang ingin merutuk dengan sumpah serapah, tapi urung untuk dikeluarkan. Sekiranya yang ditonton adalah acara tivi biasa atau sholawatan-sholawatan atau video do'a-do'a, orang akan maklum.
Bahwa Peseng tengah menghibur diri. Tapi tidak, yang ditonton adalah video bergumulnya dua pasang manusia bugil.
Semua pelayat diam. Hujatan, makian, sedih berbaur satu. Anak penulis nisan mati tak baik. Bahkan remote control telah menempel, menyatu dengan bersama tengkorak tangannya.
Apa kata Pen Bosang, jika bertemu dengan ruh anaknya. Yang hitam melegam. Dengan remote tivi menempel lekat di tangan?.
Isi kepala orang-orang kampung tak seragam, ratusan bahkan ribuan sangkaan memenuhi antariksa pikiran. Berkesimpulanlah mereka : "Biarkan ini jadi pelajaran!"
***
Tanpa ba bi bu, segera apa yang telah diperlakukan pada raga Pen Bosang terjadi pada Peseng, dimandikan, dikafani, disholatkan. Tak ada lagi ruang debat tentang tulisan untuk nisan. Yang ada, hanya perkelahian sangkaan. Pen Bosang yang baik versus anaknya yang berakhir nista. Huh!.
Dua raga dikebumikan bersama, langit membagi dua ruangnya. Matahari terik menyepuh, bersama rinai hujan merintik malas. Ingin berucap : "Matahari untuk Peseng dan hujan untuk Pen Bosang".
Istri Pen Bosang, Pen Iya, bak kayu yang tak pernah tersentuh air. Layu, tanpa warna.  Anak sisanya merangkul erat. Air mata telah kering.
"Sabar Pen Iya?".
Lalu lalang pelayat berdatangan untuk kali kedua. Kini tak membawa apa-apa, sudah cukup dengan bawaan yang pertama. Pen Iya sangat sabar, terserah urusan Allah mau diapakan dua cintanya yang pergi.





[1] Pisau kecil (bahasa Sumbawa)
[2] Kek (Bahasa sumbawa : Papen = Kakek)
[3] Tidak enakan
[4] Kuburkan bersama yang punya
[5] Bapak (Bahasa Bugis, Sumbawa)
[6] Mati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar