ANISA
Alimin Samawa
Prolog:
“Tolong
lah dok, masa iya saya tidak lulus. Bukankah kemarin saya sudah
dinyatakan lulus ujian dan dijanjikan hari ini kelulusan diumumkan”
Satu
dan hanya satu-satunya calon mahasiswi dokter kandungan menangis pilu,
dengan jilbab tidak karuan. Ia mengiba agar para penguji bisa
meluluskannya, demi sebuah cita-cita dan keinginan yang besar. Rupanya
konspirasi besar para calon dokter kandungan yang siap lulus membuat
satu-satunya calon mahasiswi itu tidak lulus. Satu alasan, perempuan
tidak akan diterima di jurusan yang sudah turun temurun meluluskan
dokter kandungan dari kaum adam, padahal pekerjaan mereka setiap
praktiknya adalah ‘menyingkap’ aurat kaum wanita. Prempuan tadi berurai
air mata, menangis pilu meninggalkan kampus suram yang tak
mengijinkannya menyulam mimpi dan cita-cita besar orang tuanya.
“kalian semua tak akan mendapatkan kebahagiaan, seperti apa yang kalian lakukan padaku!” pekik serupa kutukan gadis itu menusuk
seluruh sendi, nadi yang mendengarnya kala itu. Tapi tak satupun dari
mereka yang acuh, hanya bersungut dan memendam amarah. Marah karena apa?
“Hamil Dok?” Wajah pias perempuan berusia 33 tahun terpekik lirih penuh Tanya.
“Alhamdulillah, Syukur Ya Allah. Perempuan itu kemudian tersungkur, lemah bersujud di lantai tempat ia berdiri tadi. Dokter
Razak menatapnya datar, tak bergeming. Begitulah cara sang dokter jika
ia menemukan guratan gembira pada setiap pasienya. Nun jauh di sana, di
lubuk hatinya ada serpihan yang tiba-tiba terberai, sakit!
Sang
wanita bangkit dari sujudnya, dengan segera mengamit tangan dokter
kandungan yang sudah mengarungi profesinya selama hampir 10 tahun. “Ya
ya…selamat bu selamat!” Senyum yang terpaksa dikulum demi etika
pelayanan. Sekaligus perih yang mencabik-cabik jantung pertahanannya.
Pasiennya masih tersisa 1 orang lagi. Jarum jam yang terletak persis di
depan Alat USG menunjukan pukul 22.00.
“Bu
Anisa!” Panggil asisten klinik. Seorang wanita muda berusia kira-kira
17 tahun perlahan bangkit dan memasuki ruang periksa. Tak ada yang
menemani, matanya terlihat sembab, mungkin baru menangis.
“Mbak keluhannya apa?” Tanya dokter Razak.
“Sa ..saya mau periksa dok!”.
“Iya saya tahu, maaf ada keluhan apa?”. Perempuan muda tadi hampir saja berteriak, tapi ditahannya.
“Dokter ini kalau mau periksa, periksa saja nanti juga ketahuan apa-apanya!, gumam Anisa.
Sang asisten dengan cekatan, mempersilahkan perempuan muda itu berbaring lalu menyingkap pakaian Anisa.
“Santai saja Bu ya!”. Yang disuruh santai hanya cemberut, masih dengan mata sembab.
“Tuh
Bu lihat, janinnya sehat. Cuma Ibu harus jaga kesehatan dan banyak
istirahat!”. Anisa tak berkomentar apa-apa, mengetahui kondisi janinnya.
“Sialan!”
Pekiknya pelan. Namun terlampau keras jika ia hanya menginginkan yang
mendengar hanya dirinya. Dokter Razak tersentak dengan ucapan pasien
muda itu.
“Sialan siapa Mbak?”. Halus ucapan itu terucap.
“Yang jelas yang sialan itu bukan dokter, atau asisten Anda!”
“Terus..?”
“Dokter ini mau tahu saja!, Sialan!”
“Lho
kok..!” Dokter Razak bingung. Karena setelah pasiennya mengucapkan
kata-kata terakhirnya, tangisnya langsung pecah. Asisten dokter Razak
bingung dibuatnya. Kemudian berusaha menenangkan. Dokter Razak yang
senantiasa tenang dalam melaksanakan tugas keprofesiannya kali ini tidak
bisa tenang. Tumben sekali ini ada kasus seperti ini ia temukan. Bukan
karena ia menyimpan sesuatu yang sangat besar di hati dan perasaannya,
atau marah mengetahui pasiennya ternyata hamil, sudah tiga bulan pula.
Tapi yang dokter hadapi adalah orang yang sepertinya sangat tidak
menginginkan kehadiran janinnya. Apalagi saat ini pasien muda itu hanya
sendiri, tak ada seorangpun yang mengantarnya.
Anisa
sudah menggunakan segala cara untuk menggugurkan kandungan tapi tak
berhasil. Justeru usia kandungannya semakin bertambah. Pagi tadi Anisa
mengamati tespect uji kehamilan positif, bencana!. Bencana untuk dirinya dan yang paling menyakitkan adalah bencana bagi keluarga besarnya.
Di
tengah kebingungan seperti itu Anisa tiba-tiba berujar “Pak Dokter mau
Anak ini?, nanti saya kasih gratis” tukas Anis ketus, berlalu setelah
membayar administrasi dan membawa kertas resep. Dokter Razak
memandangnya hingga menghilang di balik pintu.
“Kurang Ajar pasien tadi Dok!” asistennya tiba-tiba angkat bicara.
“Kurang ajar bagaimana Tri?”.
“Ya iyalah Dok, masa ada orang yang tidak bersyukur dikaruniai anak!”.
“Iya, tapi kan itu bukan urusan kita. Itu urusan Bu Anis kan?, sudahlah”
***
”Sudir! Saya hamil!” Anisa memelas
”Lho, kamu tidak jadi menggugurkannya"!"
"Perempuan celaka!”
”Aku sudah menggunakan berbagai cara, tapi...” Anisa mencoba berbohong
”Tapi, kamu kasihan sama bayimu itu? Begitu!”
”Prak! Prak!” Dua kali Sudir mendaratkan tamparanya di wajah Anisa. Tubuh Sudir bergetar hebat, melihat Anis yang berlari membuat jarak.
“Pokoknya kamu harus bertanggung jawab!” Anisa berteriak dari jauh. Sudir keluar kamar mencoba mengejar Anisa. Terlampau
lambat untuk mengejar Anis yang telah berlalu bersama taxi. Sudir hanya
menatap geram taxi yang menghilang di kegelapan.
Amat
celaka bagi profesi Sudirman yang sedang menempuh pendidikan dokter.
Sekiranya pihak kampus mengetahui, Sudir harus angkat kaki dari Fakultas
Kedokteran, karena mencoreng nama Fakultas dan melanggar kode etik
Fakultas.
***
Di lab, Sudir terlihat gelisah tak tentu. Seorang yang sangat dikenalnya merapat memegang pundaknya.
“Ada
apa Dir! Calon dokter kok bermuram begitu!” sapaan akrab itu segera
memaksanya untuk bertampang tak bermasalah. Tapi Sudir salah, Dosen
Obgin yang dikenal baik sejak ia bersama-sama saat melakukan kampanye
sehat ibu dan anak mewakili Universitas itu seolah menangkap risau yang
ada di wajahnya.
“Begini dok…” ucapannya menggantung..
“Dokter janji akan menjaga rahasia ini…!”. Dokter
Razak kini duduk merapikan jas praktiknya. Dokter sekaligus dosen,
sekaligus teman baik ayahnya Sudir memasang wajah serius.
“Ada apa Dir, tidak usah sungkan cerita saja!” ajak dokter Razak ramah.
“Saya melanggar kode etik yang mengharuskan saya keluar dari Fakultas Kedokteran!” pelan ia menghembus nafas memejamkan mata.
“Kalau terlibat narkoba pasti tidak!” dokter Razak memasang wajah penuh selidik sekarang.
“Membunuh…. Pasti tidak juga!” Sudir hanya diam.
“Menghamili …?”
Belum
selesai dokter Razak meneruskan ucapanya. Langsung Sudir mengamit
tangan dokter Razak. Wajahnya pucat seketika. Sambil terisak ia memohon
agar masalah ini tidak diceritakan ke Profesor, Dekan Fakultas. Dokter
Razak beringsut menuju jendela menatap mahasiswa yang mondar mandir di
halaman Fakultas.
“Sudir, Sudir, kok bisa-bisanya kamu berbuat begitu!”
"Pak Dekan pasti malu luar biasa kalau tahu anaknya….!”
“Sekali lagi saya mohon pak! Tolong!, saya juga malu” Sudir kali ini menungkupkan tangganya ke dada.
“Ok saya Bantu!”.
Langit
pagi berubah cerah, ada beban yang tertumpah, ada iba yang terkuak. Dan
ada janji yang terucap. Ada bungkus yang merapat menunggu dibuka.
Dunia…
***
Lima bulan berlalu
“Dok, kalau dokter mau, saya ingin bayi ini dokter yang ambil!” Anisa bicara sekenanya.
Untuk kesekian kalinya ia menawarkan diri. Kali ini obrolan cair. Anisa tidak lagi berontak.
“Kamu jangan gila Nis!, syukur kamu diberikan…!” dokter Razak berhenti sejenak.
“Anak haram, begitu dok ya!” sambar Anisa tiba-tiba.
“Kamu belum berubah Nis, usia kandunganmu sudah hampir delapan bulan, saatnya kamu memutuskan untuk menjaga anakmu”.
Anisa
terdiam, kali ini dia punya waktu lama karena pasien yang datang ke
tempat praktik dokter Razak hanya tiga orang, termasuk Anisa.
“Iya Bu Anisa, disyukuri yang dikasih sama Tuhan!” asisten dokter Razak menyelah.
“Nis, maaf lho Nis. Kalau boleh tahu…mmm Ayah bayimu?” Berat dokter Razak menyulam Tanya.
“Namanya Sudir Dok!”
“Sudir..? Masih kuliah?”
“Dia kuliah di jurusan Obgin, jurusan yang mengantarkan Ibuku pada kegagalan sesaat setelah dia tes masuk!”
Dua palu godam menghantam dokter Razak. Kebetulan? Tidak!
“Dok, ada apa? Kok jadi melamun Dok!”
“Anisa, bisa pulang sekarang!”
“Tapi kan belum selesai periksanya!” Anisa berlaku manja
***
Peristiwa
yang memenuhi lorong dunia, kadang banyak yang harus terjadi secara
kebetulan. Setelah pertemuan dokter Razak dengan Anisa. Maka tahulah ia,
bahwa Anisa adalah anak dari calon Mahasiswi yang memelas. Saat
pengumuman hasil ujian masuk Fakultas Kedokteran jurusan Obgin, tempat
dokter Razak masih menjadi asisten dokter dua puluh tahun silam.
Kisah itu walau ingin segera dilupakan, seolah terus diputar slow motion tak
akan pernah terlupa. Namun i tak kan terkuak. Hingga akhirnya Anisa
datang ke ruang praktik dokter Razak dalam keadaan berdarah-darah. Akan
melahirkan rupanya. Seorang mendampingi lengkap dengan pakaian praktik.
"Sudir…?"
"Iya Dok…" Sudir hanya menggigit bibir.
Segera
dokter Razak mengambil tindakan, untuk melakukan operasi. Kondisi Anisa
tidak memungkinkan untuk melahirkan normal. Air ketuban telah pecah
beberapa waktu lalu. Keringat dingin merembesi lekuk tubuh Sudir. Anak
titisan 'haram' nya akan terlahir ke bumi.
Waktu terus berlalu. Satu jam kurang, proses bersalin kelar. Operasi
cesar. Ada yang aneh, tak ada tangis yang menyembul dari mulut mungil
bayi perempuan itu. Rupanya air ketuban telah memenuhi tenggorokannya.
dengan penanganan khusus, teriakan itu akhirnya memecah hening. Bersama
air mata bening mengiringi kepergian pemilik rahim. Anisa telah menutup
mata, beberapa menit setelah anaknya lahir. Tak sempat menatap bayi
kecilnya. Sudir diam, kaku. Tak bergeming. Mengiringi kepergian ruh
wanita yang belum sempat diikat ijab.
"Sudir!, cepat!, bantu perawat. Inikan anakmu!'
"Tidak…!"
"Sudir…!" dokter Razak membentak. Raut muka perawat dipenuhi tanya.
Ruangan itu bisu, sedih, perih. Dokter Razak hanya memandang wajah sudir yang pias tak berwarna.
***
Sesal
tak selalu datang di awal. Ia pasti datang di akhir. Posisi Sudirman
selamat. Hanya dirinya, dokter Razak dan juga Tuhan yang tahu kisah yang
akan ditutup hingga akhir hayat mereka. Anak titisan Sudirman, yang
sempurna menduplikat wajah ibunya telah aman. Dalam dekapan isteri
dokter Razak. Isteri yang telah merindu hadir cabang bayi di rahimnya,
kini tersiram air keteduhan.
Ucapan
Anisa kepada dokter Razak agar mengasuh anaknya, benar-banar lunas.
Seperti halnya Sudir yang merelakan anaknya dalam asuhan isteri dokter
Razak.
Sementara itu, ramai
pelayat yang datang menitip do'a untuk Anisa yang telah terbaring di
terowongan hitam, sisi gelap bumi. Ibunya yang telah kehilangan sebagian
akalnya nampak layu, menatap lekat tanah makam yang masih basah. Rinai
hujan jatuh ditingkahi angin lembut yang membawa aroma wewangi bunga
rerumputan di sekitar tanah makam. Di bawah pohon kamboja, sepasang lelaki terduduk diam dengan pikirannya masing-masing.
"Maafkan aku Nis…" lirih ucapan itu dalam gumam hati Sudir.
"Maafkan
saya … saya kan membalas kesalahan saya dua puluh tahun silam. Aku kan
menjaga cucumu. Suatu saat kau kan tahu bahwa perempuan juga boleh
menjadi dokter kandungan…" kata-kata dokter Razak bercampur keluh dan
sesal. Sesal yang membawanya tak kan mengecap indahnya menjadi Ayah yang
mempu menitis anak pada rahim yang halal.
Epilog :
"ANISA!".
Seorang perempuan mengeja tulisan di batu nisan. Dengan stelan dokter ia datang menyambangi makam. Di dada sebelah kanannya tertulis ANISA, Sp.OG. Di sampingnya berdiri pria yang sudah beruban, menenteng tongkat.
"Ini makam Ibumu….!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar