My Porter
by. Alimin
SINOPSIS
Udin
berutang janji, janji yang ia nazarkan sendiri. Janji yang harus ditunaikan, yaitu
menjadi seorang Porter. Mengikut jejak Sang Maestro Porter, yang tak lain
adalah Amaqnya. Beberapa kali seleksi menjadi Porter ia jalani. Namun malang,
tubuhnya yang mini menyebabkan ia ditolak berkali-kali. Hampir putus asa,
hingga titah sang Bunda memintanya untuk mencoba sekali lagi. Demi impian
besarnya, agar bisa meneruskan kuliah. Udin akhirnya mengumpulkan rupiah demi
rupiah dari hasil menjadi porter untuk turis yang melancong ke puncak gunung
Rinjani. Mengejar Impian tak semulus harapan. Aral rintang pasti mengonak duri.
Inilah Udin dan perjalanannya mengejar impian
menjadi porter, tuk melunas
janji, janji sang Porter.
Malam telah beranjak larut, kekeas baru
saja menyelesaikan hajat malamnya, berburuh makan!.
“Ures
kanak!” pelan kudengar inaq memanggil-manggil.
“Udin, udin!” kembali Inaq memanggil
“Nggih
Naq…!” aku bangkit dengan pegal di
sekujur tubuh. Tapi demi sebuah janji yang telah lama terpatri. Aku bangkit
untuk hari kesekian, dalam rangka mengikuti seleksi Porter yang diikuti oleh
sekitar lima puluh anak umur lima belas sampai dua puluh tahun. Ini adalah hari
penentuan untuk memilih sepuluh finalis. Tes kali ini adalah tes tracking and survive. Tes yang paling
dinantikan sekaligus menantang nyali kami untuk beranjak ke sesi terakhir yaitu
sesi begumul bersama air danau Segara Anak yang super dingin.
Kira-kira pukul 01.00 peserta dari
berbagai dusun di kaki gunung Rinjani berkumpul di lapangan serbaguna dusun
Senaru.
Dingin terasa menusuk menggigit-gigit
tulang. Kantuk enggan menyambangi setiap mata. Demi harga diri, ini menjadi
harga mati. Kami harus berjuang dengan pilihan hidup masing-masing. Tak boleh
ada keluhan dan lenguhan, yang harus ada semangat dan terus semangat!.
Aba-aba dimulai, peluit pertarungan
lima puluh calon porter dikumandangkan. Bagai tongkat-tongkat yang ditancap,
kaki-kaki kokoh terune kampung
bergerak lepas. Mengikuti perintah tentor Porter senior.
“Becat-becat!!!” teriak tentor jika
melihat ada yang malas-malasan. Bagusnya tak satupun kata-kata tentor menjatuhkan
atau mengendorkan semangat. Janganlah dibayangkan pose-pose kami ala ospeknya
mahasiswa baru. Asesoris yang kami pakai jauh dari kesan rapih dan mewah.
Sendal jepit, seutas tali dan suluh kecil dari sebuah senter dengan satu
baterai. Tak ketinggalan ransum berupa nasi bungkus khas kampung.
Pelan tapi pasti, pijakan-pijakan kaki
kami menapaki jalanan setapak. Perjalanan menuju pos pertama, wajah-wajah kami
depenuhi guratan semangat. Nyanyian dan yel-yel yang dibuat sendiri oleh
peserta beradu kelindan diudara pagi buta. Aku dan tiga teman satu dusun
berjalan beriringan, nyaris tanpa suara. Jika saja tak ada yang kehausan maka
suasana bisu sepanjang menapak akan terus menyelimuti
***
Tak perlu waktu lama untuk tiba di pos
pertama. Perjalanan normal lebih kurang satu setengah jam kami tempuh. Keluhan
belum nampak terdengar dari seluruh
peserta, kerumunan suara semangat riuh rendah terpekik. Kuedarkan pandangan ke
sekitar. Suluh-suluh kecil sebagai bintang berpendar tak beraturan. Suara
serangga malam mulai berkurang. Kupindai seluruh penjuru mata angin, hanya
gelap. Mungkin akan hujan.
Aku beradu pandang dengan satu-satunya
sosok bongsor dan kekar.
“Ape side gita heh!” Seorang peserta berbadan kekar, bertanya sinis .
Mungkin hanya dia yang pongah di awal perjalanan.
Kualihkan pandangan, pertanyaan yang
tak perlu jawaban. Hemat tenaga dan hemat dari rasa takut. Tentor telah menjelaskan
bahwa perjalanan dari pos pertama menuju pos dua ditempuh dalam waktu
yang lebih lama dibandingkan dari pos awal, setiap peserta mau tidak mau harus
menjaga stamina lebih kurang tiga jam.
Keringat mungkin membanjiri seluruh
peserta. Perjalanan panjang menantang ke
depan. Lebih kurang tujuh jam harus ditempuh untuk memuncak hingga turun ke
danau Segara Anak.
***
Di Pos kedua, waktu subuh. sepuluh
peserta mundur dari seleksi. Tak sanggup melanjutkan perjalanan. Tak ada satu
katapun dari tentor yang mengendurkan semangat kami. Beberapa peserta berhenti
sejenak di berugak besar. Ada yang
tidur-tiduran di bebatuan. Peluit tentor melengking. Aku dan tiga teman yang
lain tak membiarkan mesin tenaga kami berhenti. Kami tak mau duduk-duduk atau
tidur-tiduran. Itulah jurus ampuh menghemat tenaga yang pertama.
Suara nyanyian tak terdengar lagi,
sunyi senyap. Sesekali peluit tentor melengking, bagai sangkakala besar yang
ditiup memenuhi rongga telinga. Bukan manusia jika tak ada keluhan. Apalagi
anak-anak muda yang penuh gejolak. Sentilan-sentilan bernada menjatuhkan beradu
dari kelompok-kelompok yang tiba-tiba terbentuk sendiri. Kini perjalanan
panjang telah membentuk delapan grup.
Aku dan tiga temanku menjadi grup ke lima dalam gerombolan kabilah.
“Udin, tiang lelah!” Ardhi peserta yang
paling kecil di kelompokku mengeluh lelah menghentikan langkah, terduduk lemah.
“Sabar Di, kaling seberaq!” Saeful menaggapi.
“Iya Di…Ingat kan kita punya janji?”
hampir bersamaan kami memotivasi. Bagai mantra, kata-kata kami menjadi kapsul
penyemangat bagi Ardhi. Ia bangkit mengikuti bayangan peserta yang lain
menembus pekatnya malam.
Medan semakin sulit, jika di pos
pertama dan kedua, kami menemukan beberapa jalan landai. Perjalanan ke pos tiga
menanjak dan terus menanjak. Pekikan lirih kesakitan sering terdengar. Siluet
matahari pagi menghasil terang menjilati punggung gunung. Pandangan kuarahkan
ke puncak, kombinasi hijau dan hitam coklat mendominasi punggung gunung.
“Sebentar lagi!” Tentor berteriak
kencang.
“Ayo, Becat, becat pada lampa!” teriak yang lain.
Hampir tujuh kilo kami tempuhi. Pos tiga
kini dijamah oleh lebih dari delapan puluh pijakan kaki. Semua selamat. Tali
sandalku putus
Perjalanan
kurang lebih dua setengah jam ke pos tiga banyak menciutkan nyali peserta.
Persediaan minum telah habis. Beberapa wajah pias tak berwarna. Hidup adalah
perjuangan, walau tubuh mungilku tetatih, kupaksakan tulang-tulang yang
menyusun raga tuk menggagahkan diri memenuhi janji. Semua peserta bermandi
keringat, sepuhan matahari siang ditingkahi angin gunung menguatkan asa dan
cita-cita. Dua puluh orang menyatakan diri mundur. Sisa sepuluh peserta
termasuk Aku kembali akan beradu tenaga dengan tiga teman sekampung, sosok
kekar, dan lima orang lainnya.
Tiga
jam lagi kami akan memuncak. Tentor yang terdiri dari dua orang memberikan
aba-aba dan instruksi, juga motivasi.
“Ingatlah!, mendaki bukanlah persoalan
fisik, namun ia permasalahan mental!, Sambutlah kebanggaan dusun kalian, yang
akan melahirkan maestro Porter!”
Aku merasa kemenangan sudah di depan
mata. Pikiranku menerawang jauh, seluruh isi kampung akan mengeluh-eluhkan,
penjuru kaki Rinjani akan mengguratkan namaku di memori mereka, Udin Sang
Maestro Porter.
“He
Kocet, lampa! Seseorang membuyarkan lamunanku.
Teman-teman peserta telah
meninggalkanku sejauh sepuluh langkah. Kutatap wajah-wajah peserta yang tak
sanggup meneruskan lomba, menunduk di berugak persistrahatan pos tiga. Beberapa
mengacungkan jempol ke arahku.
Cepat kaki kupijakan..
***
Seupuluh peserta, sekaligus sebagai
finalis lomba berdiri gagah di puncak Rinjani, menatap sebuah bukit kecil yang
menemani danau segara Anak di dalam kawah gunung Rinjani, itulah yang disebut
masyarakat Gunung Baru Jariq –gunung baru jadi- bahasa lokalnya. Kembali tentor
memberikan semacam nasehat terakhir lomba. Seluruh peserta diminta menatap
danau dan sekitar. Awan putih tipis mendekati puncak gunung baru jariq. Ciptaan
Tuhan Yang Maha Sempurna. Pemandangan
itu memnuhi seluruh jiwa kami, membangkitkan semangat dan memenuhi hati-hati
kami. Pemandangan ini nyata, bukan mimpi, atau sekadar ilusi, oh Rinjani.
Seluruh finalis, menuruni bibir
tertinggi puncak gunung untuk sampai di danau. Beberapa pendaki yang telah
memenuhi hasrat mendakinya berpapasan dengan kami.
“Sukses ya!” mereka berteriak.
“iya, terima kasih” hanya aku yang
menjawab teriakan mereka.
Sosok kekar, berjalan paling depan.
Tentor mengikuti dari belakang. Kantong air sudah kosong. Daya tahan tubuh
peserta sudah agak kendor. Ternyata, medan turun tidak semanis yang aku
bayangkan. Medan berbatu dan kerikil kecil membuat beberapa peserta sering
terpeleset. Tiga temanku mengikuti dari belakang. Perjalanan bisu, tak ada kata
yang keluar. Tapak kaki beradu dengan tanah, suara salah satu peserta terjatuh
adalah irama alam yang mengikuti langkah.
***
Byur!, air dingin membasahi wajahku.
“Ya Allah nene kaji. Terimakasih!”
pekikku memecah keheningan peserta. Rona gembira memenuhi seluruh finalis
lomba. Beberapa tegukan air berpindah ke lambung peserta, menghapus dahaga
selama beberapa jam perjalanan. Seluruh peserta mengisi kantung-kantung air. Seluruh
finalis tiba di danau, Porter menepuk-nepuk pundakku.
“Hebat side!”
“Terune
Gagah!” tentor berteriak, seraya menjelaskan bahwa seluruh peserta
diberikan kesempatan untuk istirahat mengumpulkan tenaga untuk persiapan lomba
sesi terakhir, bergumul dengan air danau di tengah malam. Siapa peserta paling
lama berendam di air danau nanti malam itulah yang akan menjadi maestro porter
tahun ini. Seluruh peserta harap-harap cemas, aku yakin bahwa di kepala
masing-masing tergurat :Akulah Pemenangnya!. Hingga waktu yang akan menjawab.
Tentor sungguh memanjakan kami pada
sesi kali ini. Lima kilo daging dimasak untuk memenuhi asupan gizi kami.
Obrolan-obrolan santai mengisi malam kami. Nun jauh di sana, seseorang tengah
merangkai do’a untuk anak-anaknya. Serperti itulah keyakinanku. Do’a ibu pasti
ampuh, setidaknya itu yang sering kudengar dari guru agamaku.
Usai melaksanakan hajat, makan malam.
Seluruh peserta diminta tidur oleh tentor. Dingin yang merasuk tubuh dan
persendian sungguh tak bersahabat. Karung goni yang dibagikan tentor sebagai
pengganti sleeping bag tidak cukup menghalau dingin. Jadilah
malam ini malam panjang mata terjaga.
Malam begitu lama berjalan, Sesi lomba
yang paling menantangpun tiba. Ternyata tak satupun peserta bisa terlelap. Angin dingin tak mampu kami lawan.
Seluruh peserta diminta menanggalkan seluruh pakaiannya. Kami telanjang bulat,
bersiap digiring ke danau. Layaknya kambing yang sangat takut air, sepuluh
peserta memeluk tibuhnya sendiri. Kejam mungkin tapi inilah sesi terakhir. Jika
tak lolos tahun ini, maka tahun depan harus mengulang hajatan serupa.
“aku harus menang!” gumamku.
Bersedia, Siap, terjun! Teriak tentor.
Bagai kesetrum, tubuh kami disengat dingin tajam yang merajam tulang, gigiku
gemerutukan, di tengah malam pekat, hanya sosok abu-abu dan kehitaman yang
terlihat. Lamat kulihat ada sosok yang tiba-tiba terdiam. Kudekati, ternyata
sosok kekar. Kuraih tangannya, sangat dingin. Aku menariknya, mungkin dia
pingsan.
Tiba-tiba tangan kokoh milik sosok
kekar itu menarikku ke dasar danau. Kucoba menghindar dan menarik tubuh mungilku
dari cengkramannya. Lama sosok kekar itu menarik tubuhku dan menahannya dengan
kasar ke dasar. Kucoba meraih sesuatu yang menjadi titik lemah lelaki,
kugenggam kuat dan agak lama, kemungkina si sosok kekar itu kesakitan dan
berteriak di air. Aku tak peduli, tak kulepaskan cengkeramanku karena tangan
kokohnya masih mencengkram. Air dingin telah memenuhi lambungku, tak sanggup
aku bertahan. Pelan tubuhku dilepaskan.
Sosok kekar tadi terdiam sekali lagi.
Tak ada suara air di sekelilingnya. Mungkin dia pura-pura pingsan lagi. Aku tak
mempedulikannya.
“Ardhi, Mahur, Rade! Aku memanggil tiga
temanku.
“Kembeq
Din?” hampir bersamaan mereka berteriak.
“Tolong!, tolong!” aku berteriak dengan
nafas tersengal.
Sosok kekar itu kali ini tidak
pura-pura pingsan. Ia benar-benar lunglai, lemah. Seluruh peserta dan tentor
mengangkatnya ke tepi danau. Tentor melakukan tindakan penyelamatan.
Teman-teman yang lain mengambil karung goni untuk menutupi tubuh sosok kekar.
“bait balsam” perintah tentor.
Segera tentor yang satu membawa balsam
dan minyak angin. Kami mengenakan pakaian. Dan menutup diri dengan karung goni.
Teman-teman panik.
Lima belas menit, sosok kekar tersadar.
Tentor memberikan minum.
***
Kecilnya
fisik tidak berarti menciut nyali. Akhir lomba, menunjukan aku menjadi maestro
Porter tahun ini. Ini berarti aku bisa menganyam asa dan cita-cita untuk
meneruskan pendidikan.
Aku memulai debut awal sebagai Poter dengan klien enam orang bule-
porter menyebutnya demikian- Aku berangkat bersama tiga rekan porter yang sudah
senior. Barang bawaan milik pasangan dari Australia itu telah siap dipundak.
Kami bertiga mengiringi bule-bule itu,
menyusuri jalan setapak.
“Aku harus kuat, aku harus terus
sekolah!”. Barang bawaanku terlalu berat, tapi ini baru awal. Kata porter yang
sudah senior memang begitu rasanya pengalaman menjadi porter.
***
“Put on Your Jacket!” aku meminta bule-bule itu untuk
mengenakan jaketnya.
Aku mengulang dengan kata yang agak
berbeda
Wear your jacket! bahasa Inggris yang sekadarnya.
Tiga pasangan bule tersebut tak
menghiraukan, yang kutangkap dari bahasa enam turis tersebut adalah bahwa
mereka tidak mau. Dengan alasan, Porter juga tidak memakai baju. Aku berusaha
menjelaskan dengan pengetahuan bahasa Inggris yang kudapat dari sekolah
menengah pertama dulu. Suhu udara sangat ekstrem.
“Put on Your jacket!!!” sekali lagi aku
mengulang, karena khawatir yang mendalam.
“Biar saja Din, nden meleq dengah,
turis no! rekan porterku menyela.
Pos dua sudah dekat. Aku dan porter
lainnya hanya saling pandang. Tak ada gurat kelelahan di wajah kami. Ini
pengalaman pertama, dan harus sukses..Suara enam bule yang telah tiba di pos II,
bersorak-sorai. kami hanya diam, tetap meneruskan perjalanan. Bawaan di pundak
ku yang berat agak oleng. Dingin yang sangat ekstrem menyeruak hebat.
“Kadu
Klambi pada!” Porter senior mengingatkan.
Tiba-tiba sorak-sorai dari bule-bule
berubah teriakan. Aku dan dua Porter yang sudah terlatih itu segera berlari
menyusul ke Pos dua, pemandangan sungguh menggenaskan. Di tengah dingin yang
tiba-tiba ekstrim minus. Tiga bule perempuan ambruk ke tanah. Tak bernyawa.
Dalam waktu singkat kilatan dingin yang merajam tulang belulang serupa celurit
menghantam lekat, kami para porter segera berlindung di balik barang bawaan di
dekat semak-semak Pos dua. Belum sempat kami memberikan bantuan kepada bule-bule
itu. Badai pegunungan meyerang hebat. Hampir limabelas menit dingin menyeruak
hebat.
Kami para porter bangkit terhuyung. Aku
tidak tahu apa yang telah terjadi. Serangan dingin berwujud malaikat maut
menyambangi tiba-tiba, panen raga tiga pasang bule itu. kaki terpaku, tak sanggup
memulai kata. Rekan porter yang juga
sama. Diam.
***
Sepekan aku tak bisa meneruskan
tugasnya menjadi porter, trauma yang menjalar begitu kuat menghentikan langkah.
Aku merasa sangat rugi, gelontoran rupiah tak mampir sepekan. kuhitung-hitung
sekitar sejuta lebih rupiah menguap bersama kekerdilan dan trauma yang menimpa.
Inaq tak marah.
“Araq
rezeki sak lainan” Inaq
menghibur.
“Lamun
wah siap, lema berangkat malik”. Inaq memberikan terus saja memotivasi.
“Nggih
Naq!”. Aku bangkit, menatap punggung
rinjani yang berdiri kokoh dari rumah kecilku di kampung Senaru.
Waktu terus berlalu, setiap hari klien
pengguna jasakku terus bertambah. Pengelolah jasa Porter sangat menyukai
pelayanan dan kerjaku.
“Pasti bangge Amaq mu Udin!” itulah
kata-kata penyemangat Amaq Amek, pemilik jasa Porter di dusun Senaru.
Rekan-rekan sesama menyambut dengan
senang, bergabungnya aku kembali. Sang Maestro baru Porter. It’s My Porter.
Keterangan bahasa Sasak :
Kekeas
: burung hantu/burung malam
Ape
side gita : Apa kamulihat
Berugak
: bale-bale
Kaling
seberaq : lagi sebentar
Becat
: Cepat
Lampa
: jalan, berangkat
Kocet
: kecil
Nene
kaji : Tuhanku
Teruna
: pemuda lelaki
Kembeq
: kenapa
Kadu klambi pada : pakai baju semua
Araq
rezeki sak lainan : ada rezeki yang lain
“Lamun
wah siap, lema berangkat malik : kalau sudah siap, besok berangkat lagi
Inaq
: Ibu
Amaq
: Bapak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar