Selasa, 03 Juli 2012

MY PORTER : Cerpen dari Rinjani Expedition.


My Porter
by. Alimin
 
SINOPSIS
Udin berutang janji, janji yang ia nazarkan sendiri. Janji yang harus ditunaikan, yaitu menjadi seorang Porter. Mengikut jejak Sang Maestro Porter, yang tak lain adalah Amaqnya. Beberapa kali seleksi menjadi Porter ia jalani. Namun malang, tubuhnya yang mini menyebabkan ia ditolak berkali-kali. Hampir putus asa, hingga titah sang Bunda memintanya untuk mencoba sekali lagi. Demi impian besarnya, agar bisa meneruskan kuliah. Udin akhirnya mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil menjadi porter untuk turis yang melancong ke puncak gunung Rinjani. Mengejar Impian tak semulus harapan. Aral rintang pasti mengonak duri. Inilah Udin dan perjalanannya mengejar impian  menjadi porter, tuk  melunas janji, janji sang Porter.
***
Malam telah beranjak larut,  kekeas baru saja menyelesaikan hajat malamnya, berburuh makan!.
Ures kanak!” pelan kudengar inaq memanggil-manggil.
“Udin, udin!” kembali Inaq memanggil
Nggih Naq…!” aku bangkit dengan pegal di sekujur tubuh. Tapi demi sebuah janji yang telah lama terpatri. Aku bangkit untuk hari kesekian, dalam rangka mengikuti seleksi Porter yang diikuti oleh sekitar lima puluh anak umur lima belas sampai dua puluh tahun. Ini adalah hari penentuan untuk memilih sepuluh finalis. Tes kali ini adalah tes tracking and survive. Tes yang paling dinantikan sekaligus menantang nyali kami untuk beranjak ke sesi terakhir yaitu sesi begumul bersama air danau Segara Anak yang super dingin.
Kira-kira pukul 01.00 peserta dari berbagai dusun di kaki gunung Rinjani berkumpul di lapangan serbaguna dusun Senaru.
Dingin terasa menusuk menggigit-gigit tulang. Kantuk enggan menyambangi setiap mata. Demi harga diri, ini menjadi harga mati. Kami harus berjuang dengan pilihan hidup masing-masing. Tak boleh ada keluhan dan lenguhan, yang harus ada semangat dan terus semangat!.
Aba-aba dimulai, peluit pertarungan lima puluh calon porter dikumandangkan. Bagai tongkat-tongkat yang ditancap, kaki-kaki kokoh terune kampung bergerak lepas. Mengikuti perintah tentor Porter senior.
“Becat-becat!!!” teriak tentor jika melihat ada yang malas-malasan. Bagusnya tak satupun kata-kata tentor menjatuhkan atau mengendorkan semangat. Janganlah dibayangkan pose-pose kami ala ospeknya mahasiswa baru. Asesoris yang kami pakai jauh dari kesan rapih dan mewah. Sendal jepit, seutas tali dan suluh kecil dari sebuah senter dengan satu baterai. Tak ketinggalan ransum berupa nasi bungkus khas kampung.
Pelan tapi pasti, pijakan-pijakan kaki kami menapaki jalanan setapak. Perjalanan menuju pos pertama, wajah-wajah kami depenuhi guratan semangat. Nyanyian dan yel-yel yang dibuat sendiri oleh peserta beradu kelindan diudara pagi buta. Aku dan tiga teman satu dusun berjalan beriringan, nyaris tanpa suara. Jika saja tak ada yang kehausan maka suasana bisu sepanjang menapak akan terus menyelimuti
***
Tak perlu waktu lama untuk tiba di pos pertama. Perjalanan normal lebih kurang satu setengah jam kami tempuh. Keluhan belum  nampak terdengar dari seluruh peserta, kerumunan suara semangat riuh rendah terpekik. Kuedarkan pandangan ke sekitar. Suluh-suluh kecil sebagai bintang berpendar tak beraturan. Suara serangga malam mulai berkurang. Kupindai seluruh penjuru mata angin, hanya gelap. Mungkin akan hujan.
Aku beradu pandang dengan satu-satunya sosok bongsor dan kekar.
“Ape side gita heh!” Seorang peserta berbadan kekar, bertanya sinis . Mungkin hanya dia yang pongah di awal perjalanan.
Kualihkan pandangan, pertanyaan yang tak perlu jawaban. Hemat tenaga dan hemat dari rasa takut. Tentor telah  menjelaskan  bahwa perjalanan dari pos pertama menuju pos dua ditempuh dalam waktu yang lebih lama dibandingkan dari pos awal, setiap peserta mau tidak mau harus menjaga stamina lebih kurang tiga jam.
Keringat mungkin membanjiri seluruh peserta.  Perjalanan panjang menantang ke depan. Lebih kurang tujuh jam harus ditempuh untuk memuncak hingga turun ke danau Segara Anak.
***
Di Pos kedua, waktu subuh. sepuluh peserta mundur dari seleksi. Tak sanggup melanjutkan perjalanan. Tak ada satu katapun dari tentor yang mengendurkan semangat kami. Beberapa peserta berhenti sejenak di berugak besar. Ada yang tidur-tiduran di bebatuan. Peluit tentor melengking. Aku dan tiga teman yang lain tak membiarkan mesin tenaga kami berhenti. Kami tak mau duduk-duduk atau tidur-tiduran. Itulah jurus ampuh menghemat tenaga yang pertama.
Suara nyanyian tak terdengar lagi, sunyi senyap. Sesekali peluit tentor melengking, bagai sangkakala besar yang ditiup memenuhi rongga telinga. Bukan manusia jika tak ada keluhan. Apalagi anak-anak muda yang penuh gejolak. Sentilan-sentilan bernada menjatuhkan beradu dari kelompok-kelompok yang tiba-tiba terbentuk sendiri. Kini perjalanan panjang  telah membentuk delapan grup. Aku dan tiga temanku menjadi grup ke lima dalam gerombolan kabilah.
“Udin, tiang lelah!” Ardhi peserta yang paling kecil di kelompokku mengeluh lelah menghentikan langkah, terduduk lemah.
“Sabar Di, kaling seberaq!” Saeful menaggapi.
“Iya Di…Ingat kan kita punya janji?” hampir bersamaan kami memotivasi. Bagai mantra, kata-kata kami menjadi kapsul penyemangat bagi Ardhi. Ia bangkit mengikuti bayangan peserta yang lain menembus pekatnya malam.
Medan semakin sulit, jika di pos pertama dan kedua, kami menemukan beberapa jalan landai. Perjalanan ke pos tiga menanjak dan terus menanjak. Pekikan lirih kesakitan sering terdengar. Siluet matahari pagi menghasil terang menjilati punggung gunung. Pandangan kuarahkan ke puncak, kombinasi hijau dan hitam coklat mendominasi punggung gunung.
“Sebentar lagi!” Tentor berteriak kencang.
“Ayo, Becat, becat pada lampa!” teriak yang lain.

Hampir tujuh kilo kami tempuhi. Pos tiga kini dijamah oleh lebih dari delapan puluh pijakan kaki. Semua selamat. Tali sandalku putus
            Perjalanan kurang lebih dua setengah jam ke pos tiga banyak menciutkan nyali peserta. Persediaan minum telah habis. Beberapa wajah pias tak berwarna. Hidup adalah perjuangan, walau tubuh mungilku tetatih, kupaksakan tulang-tulang yang menyusun raga tuk menggagahkan diri memenuhi janji. Semua peserta bermandi keringat, sepuhan matahari siang ditingkahi angin gunung menguatkan asa dan cita-cita. Dua puluh orang menyatakan diri mundur. Sisa sepuluh peserta termasuk Aku kembali akan beradu tenaga dengan tiga teman sekampung, sosok kekar, dan lima orang lainnya.
Tiga  jam lagi kami akan memuncak. Tentor yang terdiri dari dua orang memberikan aba-aba dan instruksi, juga motivasi.
“Ingatlah!, mendaki bukanlah persoalan fisik, namun ia permasalahan mental!, Sambutlah kebanggaan dusun kalian, yang akan melahirkan maestro Porter!”
Aku merasa kemenangan sudah di depan mata. Pikiranku menerawang jauh, seluruh isi kampung akan mengeluh-eluhkan, penjuru kaki Rinjani akan mengguratkan namaku di memori mereka, Udin Sang Maestro Porter.
He Kocet, lampa! Seseorang membuyarkan lamunanku.
Teman-teman peserta telah meninggalkanku sejauh sepuluh langkah. Kutatap wajah-wajah peserta yang tak sanggup meneruskan lomba, menunduk di berugak persistrahatan pos tiga. Beberapa mengacungkan jempol ke arahku.
Cepat kaki kupijakan..
***
Seupuluh peserta, sekaligus sebagai finalis lomba berdiri gagah di puncak Rinjani, menatap sebuah bukit kecil yang menemani danau segara Anak di dalam kawah gunung Rinjani, itulah yang disebut masyarakat Gunung Baru Jariq –gunung baru jadi- bahasa lokalnya. Kembali tentor memberikan semacam nasehat terakhir lomba. Seluruh peserta diminta menatap danau dan sekitar. Awan putih tipis mendekati puncak gunung baru jariq. Ciptaan Tuhan Yang  Maha Sempurna. Pemandangan itu memnuhi seluruh jiwa kami, membangkitkan semangat dan memenuhi hati-hati kami. Pemandangan ini nyata, bukan mimpi, atau sekadar ilusi, oh Rinjani.
Seluruh finalis, menuruni bibir tertinggi puncak gunung untuk sampai di danau. Beberapa pendaki yang telah memenuhi hasrat mendakinya berpapasan dengan kami.
“Sukses ya!” mereka berteriak.
“iya, terima kasih” hanya aku yang menjawab teriakan mereka.
Sosok kekar, berjalan paling depan. Tentor mengikuti dari belakang. Kantong air sudah kosong. Daya tahan tubuh peserta sudah agak kendor. Ternyata, medan turun tidak semanis yang aku bayangkan. Medan berbatu dan kerikil kecil membuat beberapa peserta sering terpeleset. Tiga temanku mengikuti dari belakang. Perjalanan bisu, tak ada kata yang keluar. Tapak kaki beradu dengan tanah, suara salah satu peserta terjatuh adalah irama alam yang mengikuti langkah.
***
Byur!, air dingin membasahi wajahku. “Ya Allah nene kaji. Terimakasih!” pekikku memecah keheningan peserta. Rona gembira memenuhi seluruh finalis lomba. Beberapa tegukan air berpindah ke lambung peserta, menghapus dahaga selama beberapa jam perjalanan. Seluruh peserta mengisi kantung-kantung air. Seluruh finalis tiba di danau, Porter menepuk-nepuk pundakku.
“Hebat side!
Terune Gagah!” tentor berteriak, seraya menjelaskan bahwa seluruh peserta diberikan kesempatan untuk istirahat mengumpulkan tenaga untuk persiapan lomba sesi terakhir, bergumul dengan air danau di tengah malam. Siapa peserta paling lama berendam di air danau nanti malam itulah yang akan menjadi maestro porter tahun ini. Seluruh peserta harap-harap cemas, aku yakin bahwa di kepala masing-masing tergurat :Akulah Pemenangnya!. Hingga waktu yang akan menjawab.
Tentor sungguh memanjakan kami pada sesi kali ini. Lima kilo daging dimasak untuk memenuhi asupan gizi kami. Obrolan-obrolan santai mengisi malam kami. Nun jauh di sana, seseorang tengah merangkai do’a untuk anak-anaknya. Serperti itulah keyakinanku. Do’a ibu pasti ampuh, setidaknya itu yang sering kudengar dari guru agamaku.
Usai melaksanakan hajat, makan malam. Seluruh peserta diminta tidur oleh tentor. Dingin yang merasuk tubuh dan persendian sungguh tak bersahabat. Karung goni yang dibagikan tentor sebagai pengganti sleeping  bag tidak cukup menghalau dingin. Jadilah malam ini malam panjang mata terjaga.
Malam begitu lama berjalan, Sesi lomba yang paling menantangpun tiba. Ternyata tak satupun peserta bisa  terlelap. Angin dingin tak mampu kami lawan. Seluruh peserta diminta menanggalkan seluruh pakaiannya. Kami telanjang bulat, bersiap digiring ke danau. Layaknya kambing yang sangat takut air, sepuluh peserta memeluk tibuhnya sendiri. Kejam mungkin tapi inilah sesi terakhir. Jika tak lolos tahun ini, maka tahun depan harus mengulang hajatan serupa.
“aku harus menang!” gumamku.
Bersedia, Siap, terjun! Teriak tentor. Bagai kesetrum, tubuh kami disengat dingin tajam yang merajam tulang, gigiku gemerutukan, di tengah malam pekat, hanya sosok abu-abu dan kehitaman yang terlihat. Lamat kulihat ada sosok yang tiba-tiba terdiam. Kudekati, ternyata sosok kekar. Kuraih tangannya, sangat dingin. Aku menariknya, mungkin dia pingsan.
Tiba-tiba tangan kokoh milik sosok kekar itu menarikku ke dasar danau. Kucoba menghindar dan menarik tubuh mungilku dari cengkramannya. Lama sosok kekar itu menarik tubuhku dan menahannya dengan kasar ke dasar. Kucoba meraih sesuatu yang menjadi titik lemah lelaki, kugenggam kuat dan agak lama, kemungkina si sosok kekar itu kesakitan dan berteriak di air. Aku tak peduli, tak kulepaskan cengkeramanku karena tangan kokohnya masih mencengkram. Air dingin telah memenuhi lambungku, tak sanggup aku bertahan. Pelan tubuhku dilepaskan.
Sosok kekar tadi terdiam sekali lagi. Tak ada suara air di sekelilingnya. Mungkin dia pura-pura pingsan lagi. Aku tak mempedulikannya.
“Ardhi, Mahur, Rade! Aku memanggil tiga temanku.
Kembeq Din?” hampir bersamaan mereka berteriak.
“Tolong!, tolong!” aku berteriak dengan nafas tersengal.
Sosok kekar itu kali ini tidak pura-pura pingsan. Ia benar-benar lunglai, lemah. Seluruh peserta dan tentor mengangkatnya ke tepi danau. Tentor melakukan tindakan penyelamatan. Teman-teman yang lain mengambil karung goni untuk menutupi tubuh sosok kekar.
“bait balsam” perintah tentor.
Segera tentor yang satu membawa balsam dan minyak angin. Kami mengenakan pakaian. Dan menutup diri dengan karung goni. Teman-teman panik.
Lima belas menit, sosok kekar tersadar. Tentor memberikan minum.
***
Kecilnya fisik tidak berarti menciut nyali. Akhir lomba, menunjukan aku menjadi maestro Porter tahun ini. Ini berarti aku bisa menganyam asa dan cita-cita untuk meneruskan pendidikan.
Aku memulai debut awal  sebagai Poter dengan klien enam orang bule- porter menyebutnya demikian- Aku berangkat bersama tiga rekan porter yang sudah senior. Barang bawaan milik pasangan dari Australia itu telah siap dipundak.
Kami bertiga mengiringi bule-bule itu, menyusuri jalan setapak.
“Aku harus kuat, aku harus terus sekolah!”. Barang bawaanku terlalu berat, tapi ini baru awal. Kata porter yang sudah senior memang begitu rasanya pengalaman menjadi porter.
***
“Put on Your Jacket!” aku meminta bule-bule itu untuk mengenakan jaketnya.
Aku mengulang dengan kata yang agak berbeda
Wear  your jacket!  bahasa Inggris yang sekadarnya.
Tiga pasangan bule tersebut tak menghiraukan, yang kutangkap dari bahasa enam turis tersebut adalah bahwa mereka tidak mau. Dengan alasan, Porter juga tidak memakai baju. Aku berusaha menjelaskan dengan pengetahuan bahasa Inggris yang kudapat dari sekolah menengah pertama dulu. Suhu udara sangat ekstrem.

“Put on Your jacket!!!” sekali lagi aku mengulang, karena khawatir yang mendalam.
“Biar saja Din, nden meleq dengah, turis no! rekan porterku menyela.
Pos dua sudah dekat. Aku dan porter lainnya hanya saling pandang. Tak ada gurat kelelahan di wajah kami. Ini pengalaman pertama, dan harus sukses..Suara enam bule yang telah tiba di pos II, bersorak-sorai. kami hanya diam, tetap meneruskan perjalanan. Bawaan di pundak ku yang berat agak oleng. Dingin yang sangat ekstrem menyeruak hebat.
Kadu Klambi pada!” Porter senior mengingatkan.
Tiba-tiba sorak-sorai dari bule-bule berubah teriakan. Aku dan dua Porter yang sudah terlatih itu segera berlari menyusul ke Pos dua, pemandangan sungguh menggenaskan. Di tengah dingin yang tiba-tiba ekstrim minus. Tiga bule perempuan ambruk ke tanah. Tak bernyawa. Dalam waktu singkat kilatan dingin yang merajam tulang belulang serupa celurit menghantam lekat, kami para porter segera berlindung di balik barang bawaan di dekat semak-semak Pos dua. Belum sempat kami memberikan bantuan kepada bule-bule itu. Badai pegunungan meyerang hebat. Hampir limabelas menit dingin menyeruak hebat.
Kami para porter bangkit terhuyung. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Serangan dingin berwujud malaikat maut menyambangi tiba-tiba, panen raga tiga pasang bule itu. kaki terpaku, tak sanggup memulai kata. Rekan porter yang  juga sama. Diam.
***
Sepekan aku tak bisa meneruskan tugasnya menjadi porter, trauma yang menjalar begitu kuat menghentikan langkah. Aku merasa sangat rugi, gelontoran rupiah tak mampir sepekan. kuhitung-hitung sekitar sejuta lebih rupiah menguap bersama kekerdilan dan trauma yang menimpa. Inaq tak marah.
Araq rezeki sak lainanInaq menghibur.
Lamun wah siap, lema berangkat malik”. Inaq memberikan terus saja memotivasi.
 Nggih Naq!”.  Aku bangkit, menatap punggung rinjani yang berdiri kokoh dari rumah kecilku di kampung Senaru.

Waktu terus berlalu, setiap hari klien pengguna jasakku terus bertambah. Pengelolah jasa Porter sangat menyukai pelayanan dan kerjaku.
“Pasti bangge Amaq mu Udin!” itulah kata-kata penyemangat Amaq Amek, pemilik jasa Porter di dusun Senaru.
Rekan-rekan sesama menyambut dengan senang, bergabungnya aku kembali. Sang Maestro baru Porter. It’s My Porter.

Keterangan bahasa Sasak :
Kekeas : burung hantu/burung malam
Ape side gita : Apa kamulihat
Berugak : bale-bale
Kaling seberaq : lagi sebentar
Becat : Cepat
Lampa : jalan, berangkat
Kocet : kecil
Nene kaji : Tuhanku
Teruna : pemuda lelaki
Kembeq : kenapa                                                     
                                                                                                                                                                                             Kadu klambi pada : pakai baju semua
Araq rezeki sak lainan : ada rezeki yang lain
“Lamun wah siap, lema berangkat malik : kalau sudah siap, besok berangkat lagi
Inaq : Ibu
Amaq : Bapak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar