LIKE FATHER LIKE SON :
Belajar Menjadi Fatherman
“….kami mengatakan
bahwa mengapa ‘mendidik’ bukan sekadar melahirkan, membela dan memberi makan.
Kalaulah hanya itu, setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya” (Muhammad Qutb. Ulama, pemerhati Pendidikan asal Mesir)
Seorang teman bercerita. Pulang kerja. Ia
mendapati putri kecinya manyun. Di wajahnya Nampak kecewa. “Alma gak suka,
kalau Abi pergi-pergi! Abi kan janji ngajak ke pantai!” ujarnya
protes. Teman tadi hanya menganggap biasa. Namun menjadi tak biasa, ternyata protes
itu berulang. Tak hanya putrinya, anaknya yang lain pun ikut-ikutan protes.
Saat sebuah janji tak ditepati. Bahkan karena ulah sepele –menurut kebanyakan
orang- itu, suatu saat jangan kaget ternyata mereka meniru lakon serupa.
Mengabaikan janji.
Rasanya wajar saat anak-anak begitu
menginginkan kebersamaan dengan ayahya; melakukan kegiatan bersama; bermain,
belajar bersama ayahnya. Apalagi jika ayah hanya hadir part time, dan libur
hanya sepekan sekali. Ini tidak mengada-ada atau bahasa anak sekarang ‘lebay’. Ini
kenyataan yang harus dikecap oleh semua ayah atau calon ayah, untuk mencari
terapi atau threatment khusus untuk menjaga hubungan baik dengan anak-anak.
Pembicaraan mengenai ayah kali ini,
menjadi sangat special karena merebaknya banyak kasus yang menimpa anak-anak.
Mulai dari bunuh diri anak, kekerasan fisik dan seksual. Hingga penyalahgunaan
narkoba dan pornografi dikalangan anak. Para ayah yang sibuk di luar mencari
nafkah kadang lupa fungsi utamanya sebagai pengasuh, hanya menyerahkan
sepenuhnya kepada Ibu di rumah (itupun jika isteri berada di rumah). Akibatnya,
jiwa anak menjadi timpang. Ibarat burung yang membutuhkan dua sayap untuk
terbang, ada satu sayap yang patah yang tidak berfungsi. Sayap ini tidak bias
kepakan tersebab miskinnya kehadiran ayah pada jiwa anak. Ayah sebatas hadir
secara fisik, namun secara psikologis, anak belum tersentuh. Jadilah anak
tersebut ‘yatim’ sebelum waktunya. Meski punya ayah, namun tak dirasakan
keberadaannya. Naudzubillah.
Apa hubungan dengan judul yang dibuat
keren kali ini? Like father like son? .
sejatinya adalah keinginan besar kepada seluruh ayah, agar anak-anak bisa
mendapatkan pembiasaan, sikap, teladan dari ayah mereka, menambah ikatan
ayah-anak. Sebagaimana sering terlihat, anak akan sangat mudah mencontoh dari
orang terdekatnya, wabilkhusus sosok ayahnya. Istilah kerennya dari pakar
parenting adalah Fatherman. Ayah yang
didengar pendapatnya, ayah yang menjadi rujukan bagi seluruh anggota
keluarganya.
Dalam Islam, lelaki yang telah menikah
tak hanya berperan sebagai suami atau kepala keluarga. Juga menjadi navigator
dalam rumah tangganya. Sangat pas mengutip apa yang dikatakan oleh psikolog
yang sangat konsen dengan pendidikan dan penyelamatan anak, Elly Risman. “Jika
seorang Ibu adalah Unit Pelaksana Teknis, maka seorang ayah adalah penentu
Garis Besar Haluan Keluarga. Jika Ibu adalah madrasah pertama untuk anak, maka
ayahnya menjadi Kepala Sekolahnya, sehingga kepemimpinan seorang ayah lebih
kepada hal-hal strategis”.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa
pendidikan agama adalah tanggung jawab ayah. Pendidikan keteladanan. Tengoklah
ucapan Luqman yang menanamkan Tauhid kepada anaknya.
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata
kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘wahai anakku!
Janganlah enkau mempersekutukan Allah, karena mempersekutukan Allah adalah
benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman : 13)
Dalam buku Orang Tua Bintang Anak
Bintang yang disusun Oleh Irwan Rinaldi dan Bendri Jaisyurrahman, menyebutkan
bahwa ketiadaan ayah atau teladan ayah secara psikologis dalam kehidupan anak
memiliki dampak psikologis yang dikenal dengan istilah father hunger, lapar ayah. Beberapa prilaku yang muncul saat anak
kelaparan sosok ayah. Pertama,
rendahnya harga diri anak. Hadirnya ayah sebagai tokoh dari ‘dunia luar’ yang
salah satu tugasnya adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi situasi di luar
rumah dengan berani dan tangguh. Agar tidak terlalu takut dengan dunia luar. Kedua, Bertindak kekanak-kanakan. Anak-anak
yang tidak akrab dengan ayahnya cenderung menyelesaikan masalah dengan pendekatan
“flight” alias kabur, bukan “fight” atau menyelesaikan. Disebabkan rasa aman
dalam asuhan sang Ibu, tidak siap saat dihadapkan pada kekalutan masalah. Ketiga, Kesulitan menetapkan identitas
seksual. Bagi anak perempuan yang tak akrab dengan ayahnya, naluri untuk
menjaga rumahnya muncul, ia merasa fisiknya sudah sama dengan ibunya, maka
naluri untuk mengambil peran ayah muncul. Hal yang berbeda dialami jika anak laki-laki.
Kesadaran bahwa memiliki fisik yang berbeda dari ibunya membuat ia cenderung
memiripkan jiwa dan sifat sang Ibu. Yang Keempat,
Kurang bisa mengambil keputusan. Dampak paling fatal bagi anak yang tiada ayah
adalah sifat ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Mudah dipegaruhi orang lain.
Kelaparan akan sosok ayah ini mutlak
dipenuhi dari sosok superhero yang hadir melipur laranya. Superhero yang
melebihi Superman, Spiderman, Salesman, dan Hanoman. Tak perlu digigit
laba-laba, atau disambar petir untuk
menjadi superhero. Atau memakai kostum-kostum aneh. Di era sekarang ini,
ditengah kesibukan sosok ayah ini. Maka yang terpenting adalah bagaimana hadir
dengan waktu sedikit akan tetapi bisa menyiasatinya. Menjadikan anak-anak spesial
meski ayahnya memiliki waktu terbatas. Belajar dari sosok Rasulullah saw, sang
teladan utama. Dengan pertemuan yang singkat namun efeknya kuat bagi anak-anak.
Hal ini dirasakan oleh Usama bin Zaid. Suatu ketika ia dimarahi Rasulullah
sebab salah membunuh di saat perang. Syahdan, disebutkan Usamah melawan musuh,
hingga sang musuh terdesak kemudian mengucapkan syahadat, namun Usama Bin Zaid
membunuhnya. Kajadian inilah yang menyebabkan kemarahan Rasulullah. Namun
Usamah Bin Zaid tidak membantah, justru tunduk. Sebab Usamah cinta kepada
baginda Nabi. Hatinya telah terpaut. Apa sebabnya? Salah satu sebabnya adalah
peristiwa masa kecil Usamah yang dipangku Rasullah bersama Hasan bin Ali. Kala
itu Rasulullah memeluknya seraya berdoa. “Ya Allah, sayangilah Hasan dan
Usamah, karena sesungguhnya aku sangat sayang dengan kedua anak ini.” Hati anak
mana yang tidak tersentuh didoakan oleh manusia termulia. Betapa momen itu
memberi kesan mendalam di hati Usamah. Jleb!. Semoga Allah mudahkan kita para ayah
memanfaatkan momen berharga bersama anak-anak.
Lebih lanjut Ustadz Bendri
Jaisyurrahman, dalam sebuah ceramah parenting beberapa tahun lalu di NTB. Memberikan
paling tidak tiga jurus sederhana bagi para Fatherman yang supersibuk. Yang
terkendala waktu. Melalui inspirasi dari cerita Usamah di atas, betapa bukan
masalah banyaknya waktu yang disediakan untuk anak-anak, tapi seberapa
berkesannya yang berhasil ditimbulkan. Tiga jurus agar anak-anak berkesan yang
harus dikuasai para ayah. Kesatu,
adalah sering memeluk atau menyentuh anak secara fisik. Sentuhan ini memberi
efek yang mengikat batin. Selama ia tidak dilakoni dengan terburu-buru, Yang
kedua adalah ungkapkan cinta secara privat. Boleh sambil bisik-bisik atau
dengan suara yang lembut di telinga anak. Namun terdengar di telinga mereka. Yang
ketiga, mendoakan anak secara terbuka di depan mereka. Ucapkan doa sederhana
yang dimengerti anak. Dengan doa ini anak-anak tahu bahwa ayahnya adalah sosok
fatherman, teladan yang peduli. Dengan ketiga jurus tersebut, jika dilakukan
sesering mungkin, akan memberikan pengaruh yang kuat pada ikatan ayah dan anak.
Efeknya hingga anak beranjak dewasa, saat ia dinasihati sang Ayah ia akan
pasrah dan menerima, tidak banyak
mendebat. Bahkan siap mendebat pihak luar yang tak sependapat dengan
nilai yang diajarkan sang ayah. Mereka akan berani berkata “Tidak!” jika
ditawarkan rokok atau diajak bermaksiat . Dengan jurus andalan “Kata Ayah saya,
Tidak boleh!”. Ayah menjadi teladan, ayah menjadi narasumber utama anaknya. Like Father Like Son.
Wallohualam.
Referensi
:
Al-Qur’an
terjemah
Orang
Tua Bintang Anak Bintang, Bendri Jaisyurrahman, MAP, 2012
Majalah
Hidayatullah Edisi II/XXVIII/ Maret 2016/Jumadil Awal 1437
Majalah
Ummi No. 01 XXVIII Januari 2016/1437 H
Majalah
Ummi No. 02 XXVIII Februari 2016/1437 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar