Senin, 03 Agustus 2020

Hari Raya Qurban

Samudera Hikmah Berqurban

Alimin Samawa

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah di rezkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu  ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS.Al-Hajj : 34)

Syahdan, Jazirah Arab layaknya ubun-ubun gundul di atas kepala bumi. Tak ada rambut sama sekali, sehingga kutu atau binatang kecil lainnya pun tidak ada yang hidup. Begitulah keadaan gambaran Semenanjung Arab dulunya. Tak ada pepohonan, sehingga jangankan manusia, hewanpun tak ada. Sebab, air sebagai jantung kehidupan, tak berdetak di gurun pasir itu. Tak ada jiwa yang tinggal, sebab bukan hanya air yang tak ada, namun cuaca sangat ekstrem kala itu. Saat siang bebatuan berubah sangat panas tersepuh matahari. Sedangkan malamnya angin berlari kencang tak ada bebukitan yang menahanya, dingin menusuk tulang.

Namun, datang dari utara Semenanjung itu dua ekor unta berjalan gontai, beriringan membawa seorang lelaki dan seorang perempuan serta bayi kecil yang masih disusuinya. Lelaki itu adalah Nabi Ibrahim, Abu al-anbiya (Ayah dari para nabi) sebagai kunyahnya. Adapun perempuan yang bersamanya adalah Hajar, istri keduanya yang berasal dari Mesir. Sedangkan bayi kecil itu adalah Ismail. Ibrahim membawa istri dan anaknya jauh dari Palestina, menuju negeri yang tak berpenghuni dan jauh dari peradaban. Dia lalu beringsut meninggalkan keduanya di tengah gurun nan tandus itu.
Dalam Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari nomor 3364 direkam perihal kepergian Ibrahim dengan tanggapnya Hajar “Apakah Allah yang menyuruhmu wahai Ibrahim?.

“Iya benar!” jawab Nabiyullah Ibrahim.

Lalu Hajar berkata “Kalau demikian, Allah tidaka akan menelantarkan kami.”

Fragmen kisah Nabi Ibrahim alaihissalam, bersama Istri dan anaknya bukan tanpa maksud. Maha suci Allah subhanahu wa ta’ala. Yang keagungan dan kebijaksanaannya tak dapat dijangkau akal manusia. Adakah semua ini terjadi karena Allah Subhanahu wa ta’a hendak menyempurnakan rahasianya-Nya? Rabb semesta alam menumbuhkan sebatang pohon di atas lembah yang tandus, agar dari tempat itu berdiri peradaban manusia, dan memancar cahaya kenabian yang menjadi rahmat bagi semesta alam.
Fragmen kisah Ibrahim bersama anaknya tak hanya berhenti di situ. Sebagaimana lazim kita dengar dan kita baca, Abu Aal-anbiya diperintahkan untuk mengurbankan anaknya. Padahal telah lama ia menghimpun harap agar diusianya yang sudah kepada delapan, beliau dianugerahi keturunan sebagaimana direkam dalam Al quran surat Ash-Shoffat : 100-101.

“Wahai Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail)”.

Perintah untuk mengurbankan anaknya terekam jelas dalam kelanjutan ayat di atas, padahal ia telah meninggalkan anaknya semasa kecil di padang pasir yang gersang.  Lantas setelah pertemuan, perintah itu datang. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Sampai di sini, banyak hikmah yang dapat dipetik kembali untuk menapaktilasi apa yang menjadi lakon Nabiyulloh Ibrahim ‘alaihissalam bersama keluarga, selain tentang sabar, semangat dan menyandarkan harap hanya pada Allah Subhanah wa ta’ala semata. Yang tak kalah penting tentang semangat memberikan pengurbanan terbaik, penyerahan total kepada Allah. Yang hingga kini terus dilakoni generasi sesudahnya, dalam bentuk Ibadah Qurban, yang menyimpan banyak hikmah dan manfaat.

Di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini. Samudera hikmah seputar qurban kembali kita seksamai. Untuk menggugah semangat ummat.

Pertama, Memperoleh kecintaan Sang Pencipta, Rabb semesta alam dengan berqurban. Sebagaimana Nabi Ibrahim memperoleh cinta dari Allah Subhahu wa ta’ala yang direkam dalam Al Quran “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS.As-Saffat : 107).

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi)


Kedua, Mensyiarkan kembali syiar Islam. “Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syi’ar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Hajj : 36)

Ketiga, Melaksanakan amal utama yang merupakan ciri keislaman seorang hamba. Di tengah kondisi pandemi saat ini. Tentu berdampak terhadap  perekonomian masyarakat, banyak yang kehilangan pekerjaan juga berkurang pendapatan. Dengan berqurbannya mereka yang berkecukupan diharapkan bisa mengurangi beban mereka yang membutuhkan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


Dan masih banyak hikmah yang akan diperoleh oleh mereka yang melakoni ibadah qurban, dalam samudera nikmat yang Allah Subhanahu wa ta’ala anugerahkan. Semoga Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad shalallohu’alaihi wasallam bersama keluarga, sebagaimana sholawat dan salam keapada Nabiyulloh Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya.

Wallohualam bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar